Kamaruzzaman, Ph.D: Posisi UTU Strategis Dekat Dengan Rakyat
  • UTU News
  • 03. 04. 2019
  • 0
  • 242

“Paling utama yang perlu dipikirkan oleh Pimpinan Universitas Teuku Umar (UTU) saat ini dan kedepan adalah bagaimana menyesuaikan kelimuan dengan kebutuhan masyarakat dan dengan perkembangan zaman. Ketiga aspek ini dapat diintegrasikan dalam spirit penyebaran ilmu dengan penyetaraan kurikulum”, ujar Kamaruzzaman.

Ketika bincang-bincang dengan Tim UTU News belum lama ini di Banda Aceh, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D  mengapresiasi kemajuan UTU. “Saya sudah pernah ke UTU sebagai narasumber pada Seminar Internasional yang dilaksanakan Fakultas Fisip, Oktober 2018. Saya lihat UTU semakin berkembang”, ujar Kamaruzzaman Bustamam Ahmad yang sering disapa Prof KBA.   

Melalui paradigma kelimuannya, UTU dengan tidak melupakan ketiga aspek tersebut,  akan terus  berkembang, dan akan  mampu menghasilkan para ilmuan sesuai dengan perkembangan zaman yang dibutuhkan oleh masyarakat”,  ujar KBA.

Posisi Kampus UTU sangat strategis. Pertama, karena UTU  dekat dengan Samudera Hindia salah satu kampus negeri yang ada dikawasan Barat Selatan Aceh (Barsela). Fungsi strategis ini tidak dimiliki oleh kampus di Darussalam. Karena UTU ini berada ditingkat II kabupaten, maka UTU ini lebih dekat dengan rakyat,  sehingga program-program UTU seperti pertanian, pengembangan SDM itu sangat tepat sekali momennya,  ke depan UTU itu bisa menjadi salah satu kampus favorit tidak hanya di Aceh tetapi di Sumatera, ujar KBA, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry-Banda Aceh.

Apalagi kalau UTU punya program go internasional, dan memiliki daya saing, tidak tertutup kemungkinan, 10 sampai 20 tahun mendatakan UTU akan masuk dalam katagori world class, apalagi pimpinan UTU itu punya visi melihat apa yang bisa dilakukan untuk masa mendatang. “Bagi saya kehadiran UTU di Barsela dan di Aceh sangat strategis. Saya juga punya harapan dengan Kampus UTU, selain posisinya sangat strategis, UTU juga memiliki nilai historis, yang mampu merekatkan masyarakat disekitarnya dengan dunia pendidikan  dan ini  tidak dimiliki oleh kampus lain di Aceh”, ujar KBA optimis.

Kota Meulaboh-Aceh Barat, dikenal sebagai tempat perjuangan Aceh dan telah banyak menghasilkan tokoh-tokoh besar, sehingga UTU, punya nilai dalam mengembangkan modal sosial dan modal kebudayaan. Ini harus direkatkan dalam pengembangan UTU ke depan.

Pola lain yang perlu dilakukan di UTU adalah pola kaderisasi para ilmuan harus benar-benar dilakukan secara bersinergi. Kebanyakan kampus lain sekarang ini hanya mengidentikkan kampus dengan orang. Misalnya, ketika orang menyebutkan kampus A di Pulau Jawa, orang akan ingat dengan tokoh A. Oleh karena itu, UTU yang merupakan  kampus baru, kalau bisa semua elemen sivitas akademika baik  dosen dan tenaga administrasi harus mampu bergerak bersama. Disinilah UTU perlu kaderisasi dan menjalin kerjasama dengan kampus dalam dan luar negeri dengan tujuan untuk memperkuat SDM dosennya, sehingga mereka bisa berkiprah lima sampai 10 tahun ke depan. “Ini  saya rasa yang sangat urgen sekali yang harus dilakukan oleh pimpinan dalam pengembangan UTU ke depan”.(***)  

Lainnya :